Scaling iklan Facebook adalah proses “ngegas” iklan yang sudah terbukti jalan supaya hasilnya makin besar tanpa bikin performa ambruk. Kita akan membahas scaling iklan Facebook dan info menarik lainnya lagi di artikel Adsumo. Intinya: naikkan budget dengan strategi yang tepat, sambil jaga learning phase dan kualitas audiens.
Tentang Scaling Iklan Facebook
Kalau boleh jujur, scaling itu fase yang paling bikin deg-degan. Begitu kamu naikin budget, semua keputusan terasa lebih “berasa” di rekening.
Masalahnya, banyak orang mikir scaling itu cuma: budget dinaikin → hasil auto naik. Padahal, scaling iklan Facebook yang benar itu lebih mirip kayak memperbesar api unggun: kamu harus nambah kayu sedikit-sedikit, atur angin, dan pastiin apinya stabil.
Kalau kamu langsung lempar satu batang kayu basah segede pohon, apinya bisa ngambek. Pertama, kamu wajib memastikan dulu: ini beneran “winning campaign” atau cuma hoki sesaat?
Sebelum kamu scaling, jawab dulu pertanyaan receh tapi penting berikut ini:
- Apakah iklan sudah jalan minimal 3–7 hari dengan performa konsisten?
- Apakah ada event yang cukup (lead/purchase) untuk jadi dasar keputusan?
- Apakah metrik utamamu (CPA/ROAS) stabil, bukan bagus cuma 1 hari lalu drop?
Kenapa ini penting? Karena saat kamu scaling, sistem akan “belajar lagi” kalau kamu melakukan perubahan besar. Kalau dari awal datanya belum kuat, kamu scaling di atas fondasi yang rapuh.
Meta sendiri menjelaskan bahwa beberapa perubahan dianggap significant edits dan bisa bikin ad set masuk learning phase lagi, termasuk perubahan targeting, creative, optimization event, sampai perubahan bid strategy.
Dua Jalur Scaling: Vertical vs Horizontal

Biar gampang, scaling biasanya dibagi jadi dua pendekatan:
Vertical scaling = naikin budget di campaign/ad set yang sama
Ini yang paling sering dilakukan: kamu punya satu ad set yang performanya cakep, lalu kamu naikin budget.
Triknya: jangan brutal. Banyak praktisi pakai “aturan aman” naik budget sekitar 15–20% setiap 3–4 hari supaya algoritma punya waktu adaptasi, dan performa nggak kaget.
Contohnya:
Budget sekarang Rp200.000/hari → naik ke Rp240.000 (20%) → tunggu 3–4 hari sambil pantau → kalau stabil, naik lagi.
Kenapa bertahap? Karena perubahan budget yang terlalu ekstrem bisa membuat pembelajaran jadi reset/berantakan dan CPA ikut “liar”. Ini nyambung banget sama konsep significant edits tadi.
Horizontal scaling = duplikasi dan memperbanyak “mesin” yang menang
Kalau vertical scaling itu memperbesar satu toko, horizontal scaling itu buka cabang. Biasanya dilakukan dengan cara:
- Duplikasi ad set winning ke ad set baru
- Tes variasi audience (broader, lookalike, interest berbeda)
- Tes variasi placement atau struktur campaign
Keunggulannya: kamu bisa memperbesar volume tanpa “membebani” satu ad set yang sama terus-menerus. Banyak panduan scaling menyarankan pendekatan ini untuk memperluas jangkauan sambil membatasi risiko.
Struktur campaign yang enak buat scaling: ABO dulu, lalu CBO
Di fase awal (testing), banyak orang nyaman pakai ABO (ad set budget) karena kontrolnya jelas. Setelah ketemu beberapa ad set yang stabil, kamu bisa mempertimbangkan CBO/Advantage Campaign Budget supaya sistem otomatis mengalirkan budget ke ad set yang performanya paling kuat.
Gampangnya gini:
- ABO: kamu yang bagi duit ke tiap ad set
- CBO/Advantage Campaign Budget: Meta yang “milih” ad set mana yang lebih layak dikasih porsi lebih besar
Kalau kamu punya banyak ad set dan capek mindahin budget manual, CBO bisa jadi opsi yang lebih praktis buat scaling.
Cara Scaling Iklan Facebook yang Aman

Step 1 — Tetapkan “batas waras” sebelum scaling
Sebelum naikin budget, tentukan dulu:
- CPA maksimal berapa?
- ROAS minimal berapa?
- Kalau 2–3 hari naik, tapi CPA naik 30%, kamu stop atau lanjut?
Ini bikin kamu nggak reaktif. Karena musuh terbesar scaling itu panik.
Step 2 — Pilih metode scaling yang sesuai kondisi
Kalau winning campaign kamu:
- Masih 1 ad set doang → mulai dari vertical scaling pelan
- Sudah beberapa ad set menang → coba CBO/Advantage Campaign Budget
- Audience cepat jenuh → fokus horizontal scaling + variasi audience/creative
Step 3 — Jaga perubahan tetap “satu-satu”
Kesalahan scaling yang sering banget kejadian:
Hari ini naikin budget, besok ganti creative, lusa ubah targeting, lalu bingung kenapa performa kacau.
Padahal, Meta jelas menulis bahwa perubahan seperti targeting/creative/optimization event/bid strategy bisa memengaruhi learning. Jadi saran paling aman: ubah satu variabel dulu, tunggu data, baru lanjut.
Step 4 — Jangan cuma scaling budget, scaling juga kreatifnya
Ini underrated: kadang iklan “menang” bukan karena audiens aja, tapi karena kreatifnya ngena. Saat kamu scale, frekuensi naik, orang yang sama lihat iklan berulang, dan performa bisa turun karena bosan.
Solusi praktis:
- Buat 3–5 variasi kreatif yang “vibenya” mirip winning ads
- Ubah angle (testimoni vs edukasi vs before-after)
- Ubah hook 3 detik pertama (kalau video)
- Dengan begitu, kamu scaling supply kreatif, bukan cuma supply duit.
Step 5 — Pantau metrik yang relevan (bukan cuma “spend naik”)
Waktu scaling, fokus minimal ke:
- CPA/CPP
- ROAS (kalau ecom)
- Conversion rate (landing page/checkout)
- Frequency
- CPM (kompetisi)
Kalau spend naik tapi CPA ikut naik tajam, itu sinyal kamu perlu rem dulu, bukan tambah gas.
Kesimpulan
Scaling iklan Facebook yang sehat bukan soal “naikin budget gede-gedean”, tapi soal memperbesar campaign yang sudah terbukti winning dengan langkah bertahap dan terukur.
Cara paling aman biasanya mulai dari vertical scaling yang naik 15–20% tiap beberapa hari sambil menghindari perubahan besar yang bisa memicu learning phase lagi.
Kalau mau lebih agresif tapi tetap rapi, kombinasikan horizontal scaling (duplikasi ad set + perluas audience) dan pertimbangkan Advantage Campaign Budget saat kamu punya beberapa ad set yang konsisten performanya!

